Penyakit Diabetes Ancam Anak-anak!

Penyakit Diabetes Ancam Anak-anak!

Melihat banyaknya anak-anak yang mengalami diabetes, sehingga label diabetes sudah buka  “penyakit orang tua” lagi. Padahal diabetes diakibatkan dari gaya hidup yang tidak baik seperti minum manis, begadang tiap hari dll. Hal ini juga menandakan jika anak-anak memiliki gaya hidup tidak diusianya belum sampai 15 tahun. 

Penyakit diabetes sudah mengancam anak-anak!

Sekarang diabetes sudah menjadi hal lumrah di masyarakat, bahkan anak SD sampai SMA pun banyak yang menderita diabetes. Salah satu penyebabnya adalah jajanan manis dimana-mana dari warung, cafe, sampai mall. Sebagai orang tua Anda hanya bisa mengajak anak untuk makan lebih sehat dari sebelumnya.

Kebiasaan ini sebenarnya bisa dikelola termasuk batasan-batasan untuk konsumsi makanan tertentu agar kadar gula darah tetap stabil. Salah satunya bisa dengan cuka nanas saat sebelum makan. 

Cuka Nanas vs Cuka Apel: Mana yang Lebih Baik?

Apa itu cuka nanas? Mengapa bisa membantu penyakit diabetes?

Cuka nanas merupakan cuka yang berasal dari fermentasi buah nanas. Nanas sengaja dipilih untuk diabetes karena manfaatnya yang sangat terasa setelah menjadi cuka. Meskipun nanas termasuk buah yang manis, proses fermentasi justru mengubahnya menjadi cuka yang dapat membantu mengontrol kadar gula darah, bahkan pada diabetesi sekalipun.

Kandungan aktif didalam cuka nanas

1. Asam Asetat

Asam ini menjadi senyawa utama yang terbentuk ketika proses fermentasi di semua jenis cuka, termasuk juga cuka nanas nenavin. Senyawa ini akan berperan untuk mengelola kadar gula darah tetap stabil. Selain itu asam asetat ini akan berguna bagi tubuh untuk: 

  • Memperlambat pengosongan lambung, sehingga penyerapaan glukosa ke dalam darah jadi melambat. 
  • Khusus penderita diabetes tipe 2 saat konsumsi cuka nanas ini akan membantu meningkatkan sensitivitas insulin di tubuh. 
  • Membantu menurunkan kadar glukosa darah postprandial(setelah makan) yang membuat tubuh tetap normal meski setelah makan.

2. Senyawa fenolik

Buah nanas mengandung berbagai senyawa fenolik misalnya flavonoid dan asam fenolat. Menariknya dari 2 kandungan tersebut ada yang sebagian tetap bertahan dan bahkan bisa meningkat meski sudah mengalami proses fermentasi. Dalam 2 kandungan ini tersimpan 2 manfaat seperti:

  • Sebagai antioksidan yang kuat melawan stress oksidatif , hal ini sangat dibutuhkan bagi penderita diabetes karena stress tersebut sering terjadi. 
  • Memiliki efek anti-inflamasi dan antidiabetik yang cara kerjanya menurunkan resistensi insulin dan peradangan. 
  • Asam Sitrat 

3. Asam sitrat

Meskipun asam sitrat dalam nanas akan mengalami penurunan jumlah, tapi tetap bisa memberi manfaat tambahan setelah menjadi cuka nanas. Misalnya dengan adanya Asam sitrat dapat membantu metabolisme tubuh dan mendukung fungsi dari enzim yang ada di dalam tubuh.

4. Enzim Bromelain

Kandungan enzim bromelain di buah nanas akan mengalami pengurangan jumlahnya setelah nanas difermentasi menjadi cuka. Meski begitu tetap bermanfaat untuk membantu mengurangi peradangan dan memperbaiki pencernaan. 2 aspek tersebut sangatlah penting dalam manajemen diabetes 

Dari adanya asam asetat dan senyawa fenolik inilah yang membuat cuka nanas menjadi pilihan alami sebagai pendukung gaya hidup sehat. Terutama bagi Anda yang ingin mencegah gula darah tinggi ataupun mengelola diabetes. 

Kesimpulan

Kebiasaan anak bahkan Anda sendiri bisa tercemar oleh lingkungan sekitar dengan pilihan yang ada. Jika dirasa tidak mampu  mengontrol jajanan dari luar, maka bisa dimulai dari dalam rumah dengan memilih makanan yang aman untuk prediabetes.. Caranya bisa dengan makan-makanan sehat, beri contoh ke anak, dan didukung dengan pilihan alami seperti cuka nanas nenavin ini. 

Diabetes sekarang bukan lagi penyakit khusus “orang tua” apalagi melihat kebiasaan lingkungan kita yang memperbesar resiko diabetes itu sendiri. Tapi dengan edukasi yang tepat serta membiasakan minum cuka nanas sebelum makan sudah andil dalam pencegahan gula darah naik, dan dalam jangka panjang memperkecil resiko diabetes.

Sumber: 

  • Maurer, H. R. (2001). Bromelain: biochemistry, pharmacology and medical use. Cellular and Molecular Life Sciences CMLS, 58(9), 1234–1245.
  • Arshad, M. S., et al. (2020). Nutritional and health perspectives of pineapple. Journal of Food Science and Technology, 57(10), 3621–3631. 
  • Lobo, V., Patil, A., Phatak, A., & Chandra, N. (2010). Free radicals, antioxidants, and functional foods: Impact on human health. Pharmacognosy Reviews, 4(8), 118.
  • Lai, L. S., et al. (2009). Evaluation of antioxidant and anti-diabetic activities of pineapple vinegar fermented using different starter cultures. Journal of Food Biochemistry, 33(5), 552–571.
  • Johnston, C. S., Kim, C. M., & Buller, A. J. (2004). Vinegar improves insulin sensitivity to a high-carbohydrate meal in subjects with insulin resistance or type 2 diabetes. Diabetes Care, 27(1), 281-282.
  • Lim, J., Henry, C. J. (2011). Vinegar as a functional ingredient to improve postprandial glycemic control—human intervention findings and molecular mechanisms. Molecular Nutrition & Food Research, 55(10), 1473–1490.